JAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan memicu lonjakan kebutuhan listrik dan menjadikan pasokan energi sebagai salah satu penentu pembangunan pusat data. China dinilai memiliki modal besar karena ditopang jaringan listrik, energi terbarukan, dan pengembangan tenaga nuklir.
China Daily dikutip Jumat, 23 Juli, menyebut sistem kelistrikan yang kuat serta strategi menghubungkan pusat komputasi dengan sumber energi memberi China keunggulan dalam membangun infrastruktur AI.
Mantan Wakil Ketua Asosiasi Sains dan Teknologi China Zhang Qin mengatakan perkembangan AI mendorong permintaan energi dalam jumlah besar.
“AI menciptakan permintaan energi yang meledak. Solusinya terletak pada pasokan listrik yang aman, andal, dan ramah lingkungan. China memiliki kekuatan besar di bidang itu,” kata Zhang.
Menurut Zhang, tenaga surya dan angin bukan satu-satunya pilihan. Energi nuklir juga dapat memasok listrik untuk pusat data selama aspek keselamatannya terjamin.
Kebutuhan itu meningkat seiring pesatnya industri AI China. Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China mencatat nilai industri inti AI melampaui 1,2 triliun yuan atau sekitar 177 miliar dolar AS pada tahun lalu.
Industri tersebut tumbuh lebih dari 20 persen per tahun selama beberapa tahun berturut-turut. Pada semester pertama tahun ini, produksi sektor terkait AI, termasuk sirkuit terpadu dan perangkat cerdas untuk kendaraan, naik lebih dari 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Ketua CNNC Hainan Nuclear Power Co Wei Zhigang mengatakan kebutuhan komputasi yang melonjak telah memperjelas hambatan utama pengembangan AI.
“Batas akhirnya kini terlihat jelas, yakni kebutuhan terhadap pasokan listrik dalam jumlah besar dan stabil,” ujarnya.
Perusahaan teknologi seperti Microsoft dan Google mulai menjajaki penggunaan reaktor modular kecil atau SMR untuk memasok pusat data AI.
SMR merupakan reaktor nuklir berukuran lebih kecil dengan penempatan yang lebih fleksibel.
CNNC tengah menyelesaikan Linglong One, yang disebut sebagai SMR komersial darat pertama di dunia. Perusahaan menargetkan reaktor itu mulai beroperasi secara komersial pada akhir tahun ini.
Menurut Wei, SMR dapat ditempatkan dekat pusat komputasi agar pasokan listrik lebih mudah disesuaikan dengan kebutuhan.
Peneliti senior Pangoal Zhou Ji menilai keunggulan energi China terletak pada skala, struktur, dan sistem. China memimpin produksi listrik dunia, memiliki kapasitas energi baru terbesar, serta mengoperasikan jaringan tegangan ultratinggi untuk mengalirkan listrik antardaerah.
Kebutuhan listrik pusat data tetap menjadi tantangan. Pusat Penelitian Kebijakan Energi dan Lingkungan Institut Teknologi Beijing memperkirakan konsumsi listrik pusat data China mencapai 525,76 miliar kilowatt-jam pada 2030.
Jumlah itu setara dengan 4,8 persen dari total konsumsi listrik nasional.
Tekanan serupa mulai terasa di Amerika Serikat. Reuters melaporkan pertumbuhan pusat data perusahaan teknologi ikut mendorong tagihan listrik industri di kawasan Rust Belt.
Belden Brick Co di Ohio mencatat biaya listrik melonjak 90 persen pada tahun lalu. Reuters menyebut kenaikan itu terutama dipicu meningkatnya permintaan listrik dari pusat data di kawasan tersebut.
Kepala Administrasi Energi Nasional China Wang Hongzhi mengatakan China merencanakan investasi lebih dari 20 triliun yuan untuk proyek energi utama dan sektor baru.
Pusat komputasi nasional akan dihubungkan dengan kawasan energi terbarukan besar di wilayah barat. Pemerintah juga mengembangkan pembangkit tersebar, jaringan listrik mikro, dan pembangkit listrik virtual untuk memenuhi kebutuhan komputasi di daerah.
Pembangkit listrik virtual menghubungkan berbagai sumber energi kecil dan tersebar, seperti panel surya serta pengisi daya kendaraan listrik, lalu mengelolanya sebagai satu sistem.
Chief Sustainability Officer GCL Group Song Yunbo mengatakan lebih dari sepertiga listrik China sudah berasal dari energi terbarukan. Menurut Song, surplus energi membuat China cocok menjadi tempat pengujian berbagai penerapan berbasis AI.
Ketua Yingli Group Miao Qing mengatakan China telah membangun lebih dari 530 pembangkit listrik virtual. Sistem tersebut menggabungkan energi terbarukan, penyimpanan listrik, dan beban yang dapat diatur agar pasokan mengikuti perubahan permintaan dan harga listrik.
[ Add VOI as a Preferred Source Follow VOI news updates across Google. +
](https://www.google.com/preferences/source?q=https://voi.id)
Tag Terpopuler
[#prabowo subianto](https://voi.id/tag/15/prabowo-subianto)
[#donald trump](https://voi.id/tag/29/donald-trump)
[#piala dunia 2026](https://voi.id/tag/9889/piala-dunia-2026)
[#febrie adriansyah](https://voi.id/tag/15361/febrie-adriansyah)
[#konflik timur tengah](https://voi.id/tag/18400/konflik-timur-tengah)