cd /news/artificial-intelligence/china-uji-kapal-patroli-ai-bisa-deka… · home topics artificial-intelligence article
[ARTICLE · art-86368] src=voi.id ↗ pub= topic=artificial-intelligence verified=true sentiment=· neutral

China Uji Kapal Patroli AI, Bisa Dekati Korban di Air dalam 3 Menit

China has begun testing an AI-powered maritime patrol vessel, the 12-meter Haixun 14102, in Shenzhen, Guangdong Province, which can navigate, avoid obstacles, and assist in rescue simulations without constant human control. In a trial, the vessel traveled 14.2 nautical miles with route deviation under 1 meter and detected, recognized, and approached a person in water within three minutes. The vessel, which can be operated remotely, is part of China's push toward smart shipping, with a target of over 100 intelligent vessels by 2027.

read4 min views1 publishedAug 4, 2026
China Uji Kapal Patroli AI, Bisa Dekati Korban di Air dalam 3 Menit
Image: Voi (auto-discovered)

JAKARTA - China mulai menguji kapal patroli maritim berbasis kecerdasan buatan atau AI di Shenzhen, Provinsi Guangdong. Kapal ini bisa mengikuti rute, menghindari rintangan, mengenali objek, hingga membantu simulasi penyelamatan tanpa harus terus dikemudikan petugas.

China Daily dikutip Selasa, 4 Agustus, melaporkan, kapal sepanjang 12 meter bernama Haixun 14102 mulai menjalani operasi uji coba pada awal Juli. Kapal ini disebut sebagai kapal penegakan hukum maritim pertama di China yang mendapat peningkatan digital dan cerdas secara terpadu.

Haixun 14102 dilengkapi modul navigasi cerdas, sejumlah sensor, serta platform yang menghubungkan kapal dengan pusat kendali di darat.

Dalam salah satu uji coba, kapal itu menempuh 14,2 mil laut. Penyimpangan dari rute yang direncanakan tetap di bawah 1 meter. Dalam simulasi penyelamatan, sistem kapal mendeteksi, mengenali, dan mendekati orang di air dalam waktu tiga menit.

Kapal ini juga dapat dioperasikan dari jarak jauh di bawah pengawasan petugas darat.

BACA JUGA: #

Teknologi tersebut tidak dirancang untuk menggantikan petugas. Tujuannya membantu petugas membaca situasi lebih cepat, terutama saat patroli dan operasi pencarian korban di perairan sibuk.

“Operasi pencarian dan penyelamatan bisa berlangsung 36 bahkan 48 jam,” kata Hao Xianlin, kepala unit patroli maritim bandara di bawah Administrasi Keselamatan Maritim Bao’an.

“Sistem pengindraan terpadu dapat sangat meningkatkan kemampuan kami mendeteksi dan mengidentifikasi orang yang sedang kami cari,” ujarnya.

Haixun 14102 memiliki kecepatan maksimum 36 knot, satuan kecepatan yang biasa dipakai di laut. Kapal itu dipilih untuk uji coba karena banyak dipakai untuk patroli rutin, respons darurat, dan operasi penyelamatan.

Shenzhen berada di kawasan Guangdong-Hong Kong-Macao Greater Bay Area. Di wilayah ini, kapal niaga, feri penumpang, dan kapal kecil bergerak di jalur perairan yang padat.

Bagi petugas maritim, tantangannya bukan hanya jumlah kapal. Pengamatan visual berjam-jam bisa memicu kelelahan. Kondisi gelap, kabut, laut bergelombang, dan lalu lintas padat juga membuat patroli makin berat.

Data video dan sensor dari Haixun 14102 dikirim ke pusat komando di darat. Petugas dapat memantau kondisi sekitar secara langsung dan memberi dukungan operasional jika diperlukan.

Proyek ini juga dinilai lebih hemat dibanding membangun kapal cerdas dari awal. Insinyur menambahkan sistem navigasi, sensor, komunikasi, dan koneksi kapal-ke-darat tanpa mengubah struktur utama kapal atau menurunkan performa aslinya.

Otoritas maritim Shenzhen menyebut peningkatan kapal lama dapat memangkas biaya dan mempercepat penerapan teknologi.

Uji coba ini menjadi bagian dari dorongan China membangun pelayaran cerdas. Negara itu memiliki salah satu jaringan transportasi air terbesar di dunia.

Pada 2025, pelabuhan China menangani 18,34 miliar metrik ton kargo dan 354 juta TEU kontainer. TEU adalah satuan standar untuk menghitung kontainer berukuran 20 kaki. Jalur perairan pedalaman yang bisa dilayari di China mencapai 128.700 kilometer, menurut Kementerian Transportasi China.

China Daily mencatat, China juga sudah menyiapkan Smart Shipping 2030 Action Plan. Rencana itu mendorong integrasi AI dengan kapal, pelabuhan, jalur air, layanan navigasi, dan pengawasan maritim.

Pada 2027, China menargetkan sedikitnya tiga wilayah percontohan pelayaran pintar, lebih dari lima rute percontohan, lebih dari 10 skenario aplikasi yang bisa direplikasi, dan lebih dari 100 kapal cerdas beroperasi.

Aplikasi prioritasnya mencakup penyelamatan darurat, navigasi malam atau saat berkabut, operasi di jalur sempit dan berkelok, pekerjaan konstruksi di perairan, serta transportasi jarak pendek.

Namun, pakar mengingatkan pelayaran cerdas tidak bisa dilihat sesederhana menempelkan sensor atau menghilangkan awak kapal.

“Betapapun canggihnya simulasi laboratorium, itu tidak dapat mereproduksi setiap gelombang, arus, atau situasi tak terduga di laut,” kata Yin Yong, profesor di Navigation College, Dalian Maritime University.

Menurut Yin, model paling praktis saat ini adalah kerja sama antara kapal dan operator darat. Di perairan terbuka, kapal bisa lebih mengandalkan navigasi otonom. Namun, di jalur sempit atau cuaca buruk, operator darat tetap bisa turun tangan.

“Itu memungkinkan kita memakai keunggulan AI sambil tetap menjaga penilaian manusia tersedia ketika paling dibutuhkan,” kata Yin.

Teknologi serupa juga mulai diperluas ke infrastruktur navigasi. Di Pelabuhan Jiangyin, Fujian, alat bantu navigasi dilengkapi pemantau cuaca dan perangkat Automatic Identification System atau AIS.

AIS adalah sistem identifikasi otomatis yang membantu memantau posisi dan informasi kapal. Di Jiangyin, drone dipakai untuk inspeksi rutin, sedangkan pelampung terhubung memberi peringatan soal karang dan bahaya lain.

Di Sungai Minjiang, Fujian, kapal wisata dipantau sepanjang pelayaran malam lewat platform maritim digital.

Di Sungai Minjiang dan Sungai Lijiang, kapal listrik dan kapal energi baru mulai menggantikan kapal diesel lama. Tujuannya mengurangi kebisingan, emisi, dan risiko pencemaran di jalur wisata perairan.

Meski begitu, penerapan luas masih butuh pengujian, inspeksi, sertifikasi, standar operasional, perlindungan keamanan siber, serta pembagian tanggung jawab yang jelas antara awak kapal dan operator darat.

Otoritas maritim Shenzhen kini masih menyempurnakan pelatihan, prosedur inspeksi dan sertifikasi, protokol penegakan hukum, serta standar pemeliharaan Haixun 14102. Pengalaman dari uji coba ini akan menentukan apakah peningkatan serupa bisa diterapkan pada lebih banyak kapal patroli dan penyelamatan maritim.

[ Add VOI as a Preferred Source Follow VOI news updates across Google. +

](https://www.google.com/preferences/source?q=https://voi.id)

Tag Terpopuler

[#prabowo subianto](https://voi.id/tag/15/prabowo-subianto)

[#donald trump](https://voi.id/tag/29/donald-trump)

[#febrie adriansyah](https://voi.id/tag/15361/febrie-adriansyah)

[#konflik timur tengah](https://voi.id/tag/18400/konflik-timur-tengah)

[#giias 2026](https://voi.id/tag/18873/giias-2026)
── more in #artificial-intelligence 4 stories · sorted by recency
── more on @china daily 3 stories trending now
sponsored brought to you by zahid.host 4,200+ EU-deployed projects
reading about agents? ship yours in a single git push.

Run your AI side-project on zahid.host

EU-based hosting, git-push deploys, automatic HTTPS, no cold starts. Free tier with a custom domain — perfect for shipping the agent you just read about.

$git push zahid main
Live at https://your-agent.zahid.host
Get free account → Pricing
from €0/mo · no card required
LIVE [news/china-uji-kapal-patr…] indexed:0 read:4min 2026-08-04 ·