JAKARTA – Pendiri DeepSeek Liang Wenfeng disebut menilai keterbatasan daya komputasi sebagai kesenjangan terbesar AI China dengan Amerika Serikat, bukan kekurangan talenta atau teknologi.
Yicai Global dikutip Jumat, 23 Juli, menyebut penilaian itu tercantum dalam risalah pertemuan investor untuk putaran pendanaan terbaru DeepSeek. Namun, Liang maupun perusahaan yang berbasis di Hangzhou tersebut belum mengonfirmasi keaslian dokumen itu.
“Kesenjangan terbesar antara kami dan AS terletak pada sumber daya,” kata Liang, menurut risalah tersebut.
Menurut dokumen itu, Liang mengaitkan perbedaan talenta, kemampuan model, dan penerapan AI dengan ketimpangan sumber daya komputasi.
China juga menghadapi pembatasan pembelian unit pemrosesan grafis atau GPU canggih. Pembatasan itu berasal dari kontrol ekspor AS yang membatasi akses perusahaan China terhadap cip AI tercanggih Nvidia.
BACA JUGA: #
Risalah tersebut juga menyebut investasi AI China lebih kecil dibandingkan AS, sedangkan gaji tenaga profesional AI hanya mengambil porsi relatif kecil dari total pengeluaran.
DeepSeek menarik perhatian dunia karena mampu mengembangkan model bahasa besar dengan biaya lebih rendah. Perusahaan menutup putaran pendanaan eksternal pertamanya pada akhir Mei dengan menghimpun lebih dari 50 miliar yuan atau sekitar 7,4 miliar dolar AS.
Pendanaan itu dilakukan dengan valuasi perusahaan sebelum investasi sekitar 367,5 miliar yuan atau 54,3 miliar dolar AS.
Investor yang terlibat antara lain Tencent Holdings, Contemporary Amperex Technology, NetEase, JD.Com, IDG Capital, dan National Artificial Intelligence Industry Investment Fund.
Liang menyetor 20 miliar yuan, jumlah terbesar dari satu investor dalam putaran tersebut.
DeepSeek-R1 yang diluncurkan pada Januari tahun lalu sempat disebut investor Silicon Valley Marc Andreessen sebagai “momen Sputnik AI”. Istilah itu biasanya digunakan untuk menggambarkan kejutan teknologi yang memicu persaingan besar.
Berdasarkan risalah yang dilihat Yicai, DeepSeek menilai kemampuannya masih tertinggal sekitar 12 hingga 18 bulan dari perusahaan AI terkemuka AS.
Namun, perusahaan mengklaim memperoleh hasil yang sebanding dengan hanya menggunakan sekitar seperdua puluh daya komputasi para pesaingnya.
DeepSeek menargetkan kesenjangan itu dapat dipangkas menjadi tiga hingga enam bulan meski akses terhadap cip canggih masih terbatas.
Perusahaan disebut memiliki sumber daya komputasi setara sekitar 20.000 GPU Nvidia seri H. Sebagian besar perangkat keras tersebut diterima dalam dua bulan terakhir.
Liang mengatakan model AI terbesar saat ini memiliki sekitar 800 miliar parameter aktif. Sementara model tercanggih China baru memiliki puluhan miliar parameter, atau terpaut sekitar sepuluh kali lipat.
Parameter aktif adalah bagian dari parameter model yang digunakan saat AI memproses suatu perintah.
Menurut Liang, DeepSeek tetap tidak mampu melatih model sebesar itu meski seluruh dana barunya dihabiskan untuk membeli daya komputasi.
Risalah tersebut juga menyebut DeepSeek bekerja sama dengan Huawei Technologies untuk mengoptimalkan modelnya bagi ekosistem komputasi Ascend milik Huawei.
DeepSeek menggunakan bahasa pemrograman buatannya sendiri, Tile Language, untuk mengurangi ketergantungan pada CUDA.
CUDA adalah platform pemrograman Nvidia yang banyak digunakan untuk menjalankan komputasi AI pada GPU.
Pendekatan itu diklaim dapat meningkatkan efisiensi inferensi dengan penurunan kinerja hanya 1 persen hingga 2 persen.
Inferensi adalah proses ketika model AI menggunakan kemampuan yang telah dipelajari untuk menghasilkan jawaban atau prediksi.
Risalah tersebut menyebut Huawei 950 SuperPod dinilai sebanding dengan Nvidia GB200 dan GB300 dari sisi kinerja dan harga.
Hambatan utamanya disebut berada pada kapasitas produksi, bukan teknologi atau kematangan ekosistem. Menurut risalah itu, persoalan ekosistem diperkirakan sebagian besar dapat diselesaikan dalam satu tahun.
Dalam peta jalan teknologinya, DeepSeek disebut meyakini perjalanan menuju kecerdasan umum buatan atau AGI akan melalui penalaran berantai, agen AI, pembelajaran berkelanjutan, dan tahap “singularitas”, ketika sistem mulai berkembang sendiri.
AGI adalah AI yang dirancang memiliki kemampuan penalaran umum setingkat manusia.
Tahap berikutnya adalah embodied AI, yakni kecerdasan buatan yang berinteraksi dengan dunia fisik melalui robot atau perangkat.
DeepSeek menempatkan pembuatan video dan model dunia di luar jalur utama pengembangannya. Model dunia merupakan sistem AI yang meniru lingkungan nyata untuk memprediksi kejadian di masa depan.
[ Add VOI as a Preferred Source Follow VOI news updates across Google. +
](https://www.google.com/preferences/source?q=https://voi.id)
Tag Terpopuler
[#prabowo subianto](https://voi.id/tag/15/prabowo-subianto)
[#donald trump](https://voi.id/tag/29/donald-trump)
[#piala dunia 2026](https://voi.id/tag/9889/piala-dunia-2026)
[#febrie adriansyah](https://voi.id/tag/15361/febrie-adriansyah)
[#konflik timur tengah](https://voi.id/tag/18400/konflik-timur-tengah)