JAKARTA - Ledakan kecerdasan buatan membuat kebutuhan listrik pusat data melonjak tajam. Di China, sejumlah perusahaan fusi nuklir kini berusaha memangkas target komersialisasi teknologi itu dari puluhan tahun menjadi hanya lima hingga 10 tahun.
Yicai Global dikutip Jumat, 31 Juli, melaporkan, NovaFusion Energy Technology atau NovaFusionX dan sejumlah perusahaan sejenis membidik kebutuhan listrik besar yang muncul dari perkembangan cepat AI.
“Pertumbuhan AI yang meledak telah mendorong kebutuhan listrik naik secara eksponensial, memaksa kami memperpendek jendela komersialisasi fusi nuklir menjadi hanya lima hingga 10 tahun dari sebelumnya 30 hingga 50 tahun,” kata pendiri NovaFusionX, Guo Houyang, dalam forum pada 28 Juli.
“Jika kami tidak bisa menyelesaikan masalah listrik dalam lima hingga 10 tahun, daya komputasi AI pasti akan menabrak batas listrik,” ujarnya.
Mengutip Goldman Sachs, Guo menyebut kebutuhan listrik pusat data global kemungkinan mencapai sekitar 1.130 terawatt-jam pada 2030. Angka itu kira-kira setara dengan konsumsi listrik tahunan Jepang.
BACA JUGA: #
Menurut Guo, pusat data AI membutuhkan pasokan listrik stabil, bebas karbon, bisa ditempatkan di banyak lokasi, dan tetap kompetitif dari sisi biaya. Ia menilai jaringan listrik konvensional dan energi terbarukan belum bisa memenuhi seluruh syarat itu sekaligus.
Fusi nuklir adalah proses penggabungan inti atom ringan untuk menghasilkan energi. Teknologi ini lama dianggap sebagai sumber energi bersih masa depan, tetapi jalan menuju pembangkit komersial masih berat.
Guo menyebut ada tiga faktor yang membuat target komersialisasi dipercepat. Pertama, lonjakan komputasi AI menciptakan kebutuhan besar terhadap listrik stabil dan bebas karbon selama 24 jam.
Kedua, teknologi perusahaan Amerika Serikat seperti Helion Energy dinilai telah menunjukkan kelayakan ilmiah dan rekayasa untuk jalur field-reversed configuration atau FRC.
FRC adalah pendekatan untuk menahan plasma memakai konfigurasi medan magnet tertentu. Plasma adalah gas sangat panas berisi partikel bermuatan yang menjadi kunci dalam proses fusi.
Ketiga, ekosistem startup hard-tech China dinilai sudah matang karena mempertemukan talenta, industri, kebijakan, dan modal.
Namun, sejumlah pakar dalam forum yang sama mengingatkan, jarak antara perangkat laboratorium dan produk komersial masih jauh. Tantangan terbesar ada pada rekayasa dan manufaktur agar teknologi itu bisa diproduksi massal dan bekerja secara andal.
NovaFusionX berdiri pada April tahun lalu. Perusahaan itu menargetkan pelepasan plasma pertama pada akhir tahun ini dan ingin menjadi perusahaan swasta China pertama yang melampaui suhu 100 juta derajat Celsius pada tahun depan.
Guo mengatakan NovaFusionX menargetkan perolehan energi bersih dari fusi ekuivalen deuterium-tritium dengan Q lebih dari 1 pada 2029.
Q lebih dari 1 berarti energi yang dihasilkan lebih besar daripada energi yang dipakai untuk memicu proses fusi.
Perusahaan juga menargetkan pembangunan pembangkit demonstrasi fusi kecil dan tersebar pertama di China pada awal 2030-an. NovaFusionX sedang berbicara dengan sejumlah calon klien untuk pembelian listrik, tetapi belum menandatangani perjanjian apa pun.
Berbeda dari tokamak, pendekatan dominan yang memakai medan magnet besar berbentuk cincin untuk menahan plasma, NovaFusionX memilih jalur FRC yang dipadukan dengan desain reaktor modular kecil. Pendekatan ini dikenal sebagai FRC-SMR.
Menurut Guo, satu unit modular kecil membutuhkan biaya sekitar 100 juta dolar AS untuk dibangun. Biaya listriknya berpotensi turun di bawah 7 sen yuan atau sekitar 1 sen AS per kilowatt-jam.
Namun, ia mengingatkan angka tersebut masih proyeksi dan belum terbukti lewat operasi komersial.
Pemain lain, Dongsheng Fusion, tetap memakai jalur tokamak. Namun, perusahaan itu memilih bahan bakar deuterium-helium-3 yang lebih sulit dan lebih ramah lingkungan.
Manajer Umum Dongsheng Fusion, Nie Lin, mengatakan pilihan itu diambil agar tidak mengulang investasi yang sudah dilakukan perusahaan-perusahaan yang didukung negara. Sekitar 90 persen teknologi dasar Dongsheng disebut tumpang tindih dengan program nasional.
Menurut data Fusion Industry Association yang dikutip Yicai, 56 perusahaan fusi di dunia telah menggalang dana kumulatif 14,2 miliar dolar AS. Sebanyak 4,5 miliar dolar AS diperoleh dalam satu tahun terakhir, naik 69 persen dari tahun sebelumnya.
Untuk pertama kalinya, modal swasta juga melampaui pendanaan riset pemerintah sebagai sumber utama.
Hongfu Investment yang berbasis di Shanghai telah membentuk dana lebih dari 200 juta yuan atau sekitar 28 juta dolar AS untuk sektor fusi terkendali. Direktur Investasi Hongfu, Luo Yusheng, mengatakan perkembangan AI ikut memanaskan sektor fusi, dari pengendalian plasma hingga simulasi.
Luo menilai pemasok komponen dan material seperti magnet, elektronik daya, dan material superkonduktor bisa lebih cepat menghasilkan pendapatan dibandingkan pengembang reaktor.
Namun, ia memberi catatan keras. Pengembang reaktor memang menyimpan peluang bernilai triliunan yuan, tetapi belum ada yang bisa memastikan siapa yang berhasil dan berapa lama waktu yang dibutuhkan.
Helion Energy di AS menjadi perhatian perusahaan China. Helion sudah menandatangani perjanjian pembelian listrik 50 megawatt dengan Microsoft, dengan target pengiriman pada 2028. Namun, perusahaan itu juga belum mencapai pembangkitan listrik komersial.
Guo mengatakan AS unggul dalam validasi prototipe dari nol ke satu. China, menurut dia, punya kekuatan pada rantai pasok lengkap, skenario aplikasi AI berskala besar, manufaktur kelas atas, dan dukungan kebijakan Rencana Lima Tahun ke-15.
“Amerika Serikat memang memiliki keunggulan besar dalam iterasi rekayasa dari nol ke satu, tetapi China masih memiliki potensi sangat besar pada fase satu ke banyak dalam produksi industri berskala besar,” kata Guo.
Para pelaku manufaktur tetap mengingatkan jalan fusi tidak mudah. Ni Jun dari Shanghai Jiao Tong University dan Contemporary Amperex Technology mengatakan terobosan energi harus menyelesaikan persoalan ilmiah, teknis, dan rekayasa sebelum menjadi produk yang bisa diproduksi.
Ketua Shanghai Firm Lithium New Energy Technology, Zhang Xi, menyebut banyak perusahaan mengklaim sudah hampir masuk pasar, tetapi sebagian besar tidak pernah benar-benar sampai.
Sebelum fusi menghasilkan listrik komersial, Wakil Manajer Umum Pusat Teknologi Produk Wison New Energies, Deng Shujun, menilai transisi yang lebih realistis adalah energi terbarukan yang dipadukan dengan penyimpanan energi dan gas alam.
Deng juga mengatakan banyak proyek energi bersih masih tertahan pada tahap desain konseptual.
[ Add VOI as a Preferred Source Follow VOI news updates across Google. +
](https://www.google.com/preferences/source?q=https://voi.id)
Tag Terpopuler
[#prabowo subianto](https://voi.id/tag/15/prabowo-subianto)
[#donald trump](https://voi.id/tag/29/donald-trump)
[#febrie adriansyah](https://voi.id/tag/15361/febrie-adriansyah)
[#konflik timur tengah](https://voi.id/tag/18400/konflik-timur-tengah)
[#giias 2026](https://voi.id/tag/18873/giias-2026)