Xi Jinping: AI di China Seperti Kuda Unggul Berlari Cepat Sekaligus Kuat Chinese President Xi Jinping compared the development of artificial intelligence in China to a superior horse that runs fast and strong, supported by technological innovation and balanced by laws and regulations. Speaking at the World Artificial Intelligence Conference 2026 in Shanghai, Xi announced China will provide 5,000 AI training quotas for developing countries and build international cooperation centers for AI application with ASEAN, the Arab League, the African Union, and other organizations. JAKARTA — Presiden China Xi Jinping mengumpamakan perkembangan kecerdasan buatan AI di China seperti kuda unggul yang berlari cepat sekaligus kuat karena selain didukung dengan inovasi teknologi tapi diimbangidengan aturan perundang-undangan. "China memahami tren dan hukum perkembangan AI serta terus menyempurnakan peraturan perundang-undangan, kebijakan dan sistem, pedoman penerapan, serta prinsip-prinsip etika yang terkait. Hal ini dilakukan demi memastikan AI tetap aman, andal, dan terkendali, sehingga diumpamakan sebagai kuda unggul berdaya jelajah tinggi, tidak hanya dapat berlari cepat, tetapi juga melaju dengan mantap," kata Presiden Xi Jinping di Shanghai pada Jumat, 17 Juli dilansir dari ANTARA. Xi Jinping menyampaikan hal tersebut dalam pembukaan Konferensi Kecerdasan Artifisial Dunia World Artificial Intelligence Conference atau WAIC 2026 dan Konferensi Tingkat Tinggi Tata Kelola Kecerdasan Artifisial Global. Selain itu, sebagai negara besar yang bertanggung jawab, China, sebut Xi, juga selalu berkomitmen untuk menjadi penyedia barang publik internasional dalam bidang kecerdasan artifisial. "China akan menyediakan 5.000 kuota pelatihan dan studi khusus kecerdasan buatan AI bagi negara-negara berkembang," tambah Xi. Kemudian, China juga akan membangun pusat kerja sama internasional untuk penerapan kecerdasan artifisial yang ditujukan bagi ASEAN, Liga Arab, Uni Afrika, Komunitas Negara-Negara Amerika Latin dan Karibia, Organisasi Kerja Sama Shanghai, serta negara-negara BRICS. Terkait dukungan terhadap perkembangan AI, China, kata Xi membangun ekosistem yang sehat, tempat berbagai pelaku dapat hidup berdampingan, berkembang, dan mencapai kemakmuran bersama. "China berpegang pada perpaduan antara pasar yang efektif dan pemerintah yang berperan aktif, memperkuat inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi kecerdasan artifisial, serta secara aktif mendorong pelaksanaan program 'Kecerdasan Artifisial Plus'," tambah Xi. Skala industri inti ekonomi cerdas China, ungkap Xi, juga telah melampaui satu triliun yuan. "Berbagai jenis perangkat pintar telah memasuki jutaan rumah tangga dan memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat. 'Manufaktur Cerdas China' telah menjadi satu lagi kartu nama yang cemerlang bagi modernisasi ala China," jelas Xi. Namun, pada saat yang sama, China selalu menjunjung pembangunan dan keamanan secara seimbang. "Sejak saya mengajukan Inisiatif Tata Kelola Kecerdasan Artifisial Global, China telah mendorong Majelis Umum PBB untuk mengesahkan melalui konsensus sebuah resolusi mengenai kerja sama internasional dalam pembangunan kapasitas kecerdasan artifisial," tegas Xi. Xi menjelaskan China juga telah menerbitkan Rencana Inklusif Pembangunan Kapasitas Kecerdasan Artifisial dan Inisiatif Kerja Sama Internasional "Kecerdasan Artifisial Plus", serta mengusulkan pembentukan Organisasi Kerja Sama Kecerdasan Artifisial Dunia. "Dengan demikian, China terus-menerus menyumbangkan solusi China. Masyarakat China kerap mengatakan satu senar tidak dapat menghasilkan harmoni dan satu pohon tidak dapat membentuk hutan, perkembangan kecerdasan artifisial tidak seharusnya menjadi permainan solo satu negara, melainkan harus menjadi sebuah simfoni kerja sama global," tegas Xi. Semakin pesat teknologi kecerdasan artifisial berkembang dari hari ke hari, tegas Xi, semakin penting pula memastikan arah perkembangannya menuju kemajuan, kebaikan, dan kesejahteraan umat manusia tetap ditetapkan secara tepat. "China bersedia, dengan sikap yang semakin terbuka, tindakan yang semakin pragmatis, dan pandangan yang semakin berorientasi jangka panjang, bekerja sama dengan semua pihak untuk memanfaatkan peluang sekaligus menghadapi tantangan perkembangan AI. Marilah kita bergandengan tangan untuk bersama-sama menciptakan masa depan masyarakat manusia yang lebih baik," tutup Xi. Sebelumnya pada Kamis 16/7 , China juga menginisiasi pembentukan Organisasi Kerjasama Kecerdasan Artifisial Global World Artificial Intelligence Cooperation Organization atau WAICO yang dokumen pendiriannya ditandatangai oleh China dan 28 negara lainnya termasuk Indonesia. Negara-negara penandatangan WAICO yaitu China, Aljazair, Belarus, Brazil, Kamboja, Kamerun, Kongo, Kuba, Ethiopia, Indonesia, Kazakhstan, Kenya, Kirgistan, Laos, Lesotho, Malaysia, Mozambik, Myanmar, Nikaragua, Oman, Pakistan, Rusia, Senegal, Serbia, Afrika Selatan, Tajikistan, Uzbekistan, Venezuela, Zambia Indonesia diwakili oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Sedangkan World Artificial Intelligence Conference WAIC 2026 sendiri berlangsung pada 17-20 Juli 2026 di Shanghai. Tahun 2026 di China disebut sebagai tahun pertama penerapan agen AI AI Agent , di mana AI beralih dari sekadar kemampuan berkomunikasi menjadi produktivitas nyata, yaitu mengerjakan tugas secara mandiri. Tren besar lainnya adalah pengembangan embodied AI atau kecerdasan buatan dalam bentuk fisik, seperti robot humanoid yang sudah mulai bekerja di pabrik dan gudang, bukan hanya sebagai pajangan. Ada pula penekanan besar pada pengembangan infrastruktur komputasi, seperti cloud computing demi menopang beban kerja AI, termasuk upaya mengurangi ketergantungan pada teknologi asing. Selain itu, penerapan AI di berbagai industri AI+ seperti manufaktur, keuangan, dan transportasi menjadi fokus utama. Industri AI di China diperkirakan akan terus tumbuh dengan cepat, dengan adopsi AI di perusahaan-perusahaan besar diperkirakan mencapai lebih dari 80 persen, yang menunjukkan komersialisasi dan penerapan massal menjadi arah utama pengembangan AI di negara tersebut. Presiden China Xi Jinping mengumpamakan perkembangan kecerdasan buatan AI di China seperti kuda unggul yang berlari cepat sekaligus kuat karena selain didukung dengan inovasi teknologi tapi diimbangin dengan aturan perundang-undangan. "China memahami tren dan hukum perkembangan AI serta terus menyempurnakan peraturan perundang-undangan, kebijakan dan sistem, pedoman penerapan, serta prinsip-prinsip etika yang terkait. Hal ini dilakukan demi memastikan AI tetap aman, andal, dan terkendali, sehingga diumpamakan sebagai kuda unggul berdaya jelajah tinggi, tidak hanya dapat berlari cepat, tetapi juga melaju dengan mantap," kata Presiden Xi Jinping di Shanghai pada Jumat 17/7 . Xi Jinping menyampaikan hal tersebut dalam pembukaan Konferensi Kecerdasan Artifisial Dunia World Artificial Intelligence Conference atau WAIC 2026 dan Konferensi Tingkat Tinggi Tata Kelola Kecerdasan Artifisial Global. Selain itu, sebagai negara besar yang bertanggung jawab, China, sebut Xi, juga selalu berkomitmen untuk menjadi penyedia barang publik internasional dalam bidang kecerdasan artifisial. "China akan menyediakan 5.000 kuota pelatihan dan studi khusus kecerdasan buatan AI bagi negara-negara berkembang," tambah Xi. Kemudian, China juga akan membangun pusat kerja sama internasional untuk penerapan kecerdasan artifisial yang ditujukan bagi ASEAN, Liga Arab, Uni Afrika, Komunitas Negara-Negara Amerika Latin dan Karibia, Organisasi Kerja Sama Shanghai, serta negara-negara BRICS. Terkait dukungan terhadap perkembangan AI, China, kata Xi membangun ekosistem yang sehat, tempat berbagai pelaku dapat hidup berdampingan, berkembang, dan mencapai kemakmuran bersama. "China berpegang pada perpaduan antara pasar yang efektif dan pemerintah yang berperan aktif, memperkuat inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi kecerdasan artifisial, serta secara aktif mendorong pelaksanaan program 'Kecerdasan Artifisial Plus'," tambah Xi. Skala industri inti ekonomi cerdas China, ungkap Xi, juga telah melampaui satu triliun yuan. "Berbagai jenis perangkat pintar telah memasuki jutaan rumah tangga dan memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat. 'Manufaktur Cerdas China' telah menjadi satu lagi kartu nama yang cemerlang bagi modernisasi ala China," jelas Xi. Namun, pada saat yang sama, China selalu menjunjung pembangunan dan keamanan secara seimbang. "Sejak saya mengajukan Inisiatif Tata Kelola Kecerdasan Artifisial Global, China telah mendorong Majelis Umum PBB untuk mengesahkan melalui konsensus sebuah resolusi mengenai kerja sama internasional dalam pembangunan kapasitas kecerdasan artifisial," tegas Xi. Xi menjelaskan China juga telah menerbitkan Rencana Inklusif Pembangunan Kapasitas Kecerdasan Artifisial dan Inisiatif Kerja Sama Internasional "Kecerdasan Artifisial Plus", serta mengusulkan pembentukan Organisasi Kerja Sama Kecerdasan Artifisial Dunia. "Dengan demikian, China terus-menerus menyumbangkan solusi China. Masyarakat China kerap mengatakan satu senar tidak dapat menghasilkan harmoni dan satu pohon tidak dapat membentuk hutan, perkembangan kecerdasan artifisial tidak seharusnya menjadi permainan solo satu negara, melainkan harus menjadi sebuah simfoni kerja sama global," tegas Xi. Semakin pesat teknologi kecerdasan artifisial berkembang dari hari ke hari, tegas Xi, semakin penting pula memastikan arah perkembangannya menuju kemajuan, kebaikan, dan kesejahteraan umat manusia tetap ditetapkan secara tepat. "China bersedia, dengan sikap yang semakin terbuka, tindakan yang semakin pragmatis, dan pandangan yang semakin berorientasi jangka panjang, bekerja sama dengan semua pihak untuk memanfaatkan peluang sekaligus menghadapi tantangan perkembangan AI. Marilah kita bergandengan tangan untuk bersama-sama menciptakan masa depan masyarakat manusia yang lebih baik," tutup Xi. Sebelumnya pada Kamis 16/7 , China juga menginisiasi pembentukan Organisasi Kerjasama Kecerdasan Artifisial Global World Artificial Intelligence Cooperation Organization atau WAICO yang dokumen pendiriannya ditandatangani oleh China dan 28 negara lainnya termasuk Indonesia. Negara-negara penandatangan WAICO yaitu China, Aljazair, Belarus, Brazil, Kamboja, Kamerun, Kongo, Kuba, Ethiopia, Indonesia, Kazakhstan, Kenya, Kirgistan, Laos, Lesotho, Malaysia, Mozambik, Myanmar, Nikaragua, Oman, Pakistan, Rusia, Senegal, Serbia, Afrika Selatan, Tajikistan, Uzbekistan, Venezuela, Zambia Indonesia diwakili oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Sedangkan World Artificial Intelligence Conference WAIC 2026 sendiri berlangsung pada 17-20 Juli 2026 di Shanghai. Tahun 2026 di China disebut sebagai tahun pertama penerapan agen AI AI Agent , di mana AI beralih dari sekadar kemampuan berkomunikasi menjadi produktivitas nyata, yaitu mengerjakan tugas secara mandiri. Tren besar lainnya adalah pengembangan embodied AI atau kecerdasan buatan dalam bentuk fisik, seperti robot humanoid yang sudah mulai bekerja di pabrik dan gudang, bukan hanya sebagai pajangan. Ada pula penekanan besar pada pengembangan infrastruktur komputasi, seperti cloud computing demi menopang beban kerja AI, termasuk upaya mengurangi ketergantungan pada teknologi asing. Selain itu, penerapan AI di berbagai industri AI+ seperti manufaktur, keuangan, dan transportasi menjadi fokus utama. Industri AI di China diperkirakan akan terus tumbuh dengan cepat, dengan adopsi AI di perusahaan-perusahaan besar diperkirakan mencapai lebih dari 80 persen, yang menunjukkan komersialisasi dan penerapan massal menjadi arah utama pengembangan AI di negara tersebut. Add VOI as a Preferred Source Follow VOI news updates across Google. + https://www.google.com/preferences/source?q=https://voi.id Tag Terpopuler prabowo subianto https://voi.id/tag/15/prabowo-subianto donald trump https://voi.id/tag/29/donald-trump piala dunia 2026 https://voi.id/tag/9889/piala-dunia-2026 febrie adriansyah https://voi.id/tag/15361/febrie-adriansyah konflik timur tengah https://voi.id/tag/18400/konflik-timur-tengah