Visa Beli BioCatch 2,4 Miliar Dolar AS untuk Lawan Penipuan AI Visa Inc. has agreed to acquire Israeli fraud detection company BioCatch for $2.4 billion in cash, a deal announced on Monday and reported by Anadolu Agency on Tuesday, August 4. BioCatch uses AI and machine learning to analyze over 3,000 anonymous data points to distinguish legitimate customers from fraudsters, and its technology will complement Visa's existing cybersecurity and fraud detection products. Visa estimates that account takeovers and fraud cost the global economy over $1 trillion annually, and the acquisition is expected to close by the end of fiscal Q2 2027, pending regulatory approvals. JAKARTA - Visa bergerak lebih serius melawan penipuan keuangan berbasis kecerdasan buatan atau AI. Raksasa pembayaran itu sepakat membeli perusahaan deteksi penipuan asal Israel, BioCatch, senilai 2,4 miliar dolar AS secara tunai. Dengan asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS, nilai akuisisi itu setara sekitar Rp43,2 triliun. Anadolu Agency dikutip Selasa, 4 Agustus, melaporkan, kesepakatan tersebut diumumkan Visa pada Senin. Akuisisi dilakukan saat penipuan keuangan makin rumit karena pelaku kejahatan juga memakai AI. BioCatch akan dibeli dari dana yang dikelola perusahaan ekuitas swasta berbasis di London, Permira, serta pemegang saham lain. BioCatch memakai AI dan pembelajaran mesin untuk menganalisis lebih dari 3.000 titik data anonim. Data itu mencakup cara pengguna mengetik, menggerakkan tetikus, menyentuh layar, memegang perangkat, hingga tanda perangkat sudah disusupi. Pembelajaran mesin adalah teknologi yang membuat sistem bisa mengenali pola dari data. Dalam kasus BioCatch, pola itu dipakai untuk membedakan aktivitas nasabah asli dan pelaku penipuan. Platform BioCatch mengevaluasi perilaku pengguna selama sesi perbankan digital. Tujuannya untuk membedakan nasabah sah dari penipu, bot, atau orang yang bertransaksi karena dipaksa pihak lain. Visa menyebut teknologi BioCatch akan melengkapi produk pertahanan siber, deteksi penipuan, identitas, dan manajemen risiko yang sudah dimiliki perusahaan. BACA JUGA: Teknologi itu juga akan membantu bank mengenali pengambilalihan akun, penipuan, aplikasi palsu, dan aktivitas money mule sebelum uang ditransfer. Money mule adalah orang atau rekening yang dipakai untuk menampung atau memindahkan uang hasil kejahatan. “BioCatch akan membantu klien kami menghentikan penipuan sebelum mencapai titik pembayaran,” kata Presiden Divisi Layanan Bernilai Tambah Visa, Andrew Torre. Visa memperkirakan pengambilalihan akun dan penipuan merugikan ekonomi global lebih dari 1 triliun dolar AS setiap tahun. Perusahaan itu menyebut AI memungkinkan pelaku kejahatan menjalankan serangan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam lima tahun terakhir, Visa mengaku telah menginvestasikan lebih dari 13 miliar dolar AS untuk teknologi dan infrastruktur. Dana itu dipakai untuk melindungi jaringan pembayaran dan mengurangi penipuan. CEO BioCatch Gadi Mazor mengatakan perusahaannya akan mempertahankan tim kepemimpinan dan struktur pelaporan setelah akuisisi. BioCatch akan masuk ke organisasi layanan bernilai tambah milik Visa. Transaksi ini masih menunggu persetujuan regulator dan pemenuhan syarat penutupan lain yang lazim dalam aksi korporasi. Visa memperkirakan kesepakatan rampung pada akhir kuartal kedua tahun fiskal 2027. Add VOI as a Preferred Source Follow VOI news updates across Google. + https://www.google.com/preferences/source?q=https://voi.id Tag Terpopuler prabowo subianto https://voi.id/tag/15/prabowo-subianto donald trump https://voi.id/tag/29/donald-trump febrie adriansyah https://voi.id/tag/15361/febrie-adriansyah konflik timur tengah https://voi.id/tag/18400/konflik-timur-tengah giias 2026 https://voi.id/tag/18873/giias-2026