# Saham Chip AI Turun Tajam, Pasar Global Belum Tenang meski Iran-AS Mereda

> Source: <https://voi.id/teknologi/587987/saham-chip-ai-turun-tajam-pasar-global-belum-tenang-meski-iran-as-mereda>
> Published: 2026-08-03 13:45:00+00:00

JAKARTA - Redanya ketegangan Amerika Serikat dan Iran belum cukup membuat pasar global bergerak searah. Harga minyak turun, bursa AS dan Eropa menguat, tetapi saham chip dan AI di Asia justru tertekan tajam.

Anadolu Agency dikutip Senin, 3 Agustus, melaporkan, pasar global bergerak beragam pada awal pekan. Investor menimbang harapan kesepakatan baru di Timur Tengah, data ekonomi Asia, imbal hasil obligasi, dan kekhawatiran valuasi berlebihan di sektor semikonduktor.

Tekanan di Asia terlihat jelas pada saham teknologi Korea Selatan. Saham pembuat chip memori AI SK Hynix turun 8 persen, sementara Samsung Electronics merosot 8,4 persen.

Kekhawatiran valuasi berlebihan di sektor semikonduktor global berlanjut pada awal pekan. Sentimen itu menutupi optimisme yang muncul setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah sedikit mereda.

Presiden AS Donald Trump mengatakan negosiasi dengan Teheran akan dilanjutkan pada Senin. Ia optimistis kesepakatan dapat dicapai untuk membuka kembali Selat Hormuz dan perlucutan senjata nuklir Iran.

Selat Hormuz adalah jalur laut penting di Teluk Persia. Perkembangan di kawasan ini ikut menjadi perhatian pasar minyak.

## BACA JUGA:

Persepsi risiko geopolitik sedikit mereda. Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober turun 5,1 persen menjadi 83,4 dolar AS per barel.

Namun, kabar dari Timur Tengah tidak menghapus kekhawatiran di sektor teknologi. Kemajuan China dalam pembuatan chip canggih dan kecerdasan buatan atau AI meningkatkan kekhawatiran atas profitabilitas dan pertumbuhan bisnis semikonduktor.

Di AS, indeks harga Personal Consumption Expenditures atau PCE turun dari 4,1 persen menjadi 3,7 persen pada Juni. PCE adalah salah satu ukuran inflasi yang diperhatikan The Fed.

Penurunan itu mengurangi peluang beberapa kali kenaikan suku bunga The Fed. Pasar tetap memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga hingga akhir tahun.

Peluang kenaikan suku bunga diperkirakan 67 persen untuk September dan 96 persen untuk Oktober. Data ketenagakerjaan nonpertanian AS yang dirilis pekan ini diperkirakan ikut membentuk ekspektasi pasar terhadap The Fed.

Pasar valuta asing juga menjadi sorotan setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengonfirmasi intervensi terhadap yen Jepang.

Bessent mengatakan intervensi pada 31 Juli menahan pergerakan yen yang tidak teratur. Ia juga membuka peluang intervensi pasar bersama tambahan jika diperlukan.

Analis menilai depresiasi tajam yen Jepang dapat mengganggu arus modal dan memicu volatilitas di pasar keuangan global.

Depresiasi adalah pelemahan nilai mata uang. Volatilitas adalah kondisi ketika harga atau nilai bergerak naik-turun tajam dalam waktu singkat.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS bergerak turun terbatas. Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun memulai pekan di 5,24 persen, turun sekitar empat basis poin pada Senin, setelah pekan lalu sempat menyentuh level tertinggi dalam 19 tahun.

Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun dibuka di 4,7 persen, turun lima basis poin.

Indeks Dolar AS sempat turun ke level 99 pada pekan lalu untuk pertama kalinya sejak 17 Juni. Dolar AS memulai perdagangan Senin di 99,7.

Harga emas naik 0,6 persen menjadi 4.070 dolar AS per ons. Kenaikan itu terjadi saat ketegangan geopolitik mereda dan peluang kenaikan suku bunga beberapa kali ikut mengecil.

Indeks saham AS memulai pekan dengan nada positif. Di Eropa, pasar juga dibuka menguat karena turunnya harga energi memberi ruang bagi perubahan ekspektasi inflasi dan pertumbuhan.

Menurut analis, penurunan harga minyak penting bagi ekonomi Eropa yang bergantung pada energi impor.

Perhatian investor Eropa pekan ini tertuju pada data inflasi produsen dan Purchasing Managers’ Index atau PMI sektoral. PMI adalah indikator yang membaca aktivitas bisnis melalui survei pelaku usaha.

Menurut perkiraan pasar uang, peluang Bank Sentral Eropa menaikkan suku bunga kebijakan pada September mencapai 87 persen.

Di Asia, data ekonomi belum memberi dorongan kuat. PMI manufaktur final Jepang mencapai 54,5 pada Juni. Angka itu turun tipis dari bulan sebelumnya, tetapi masih menunjukkan momentum kuat.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran Bank of Japan dapat memperketat kebijakan moneter lebih lanjut.

PMI manufaktur China berada di 50,9, di bawah ekspektasi. Data itu menambah kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi China.

Anadolu Agency mencatat, menjelang penutupan perdagangan Senin, Nikkei 225 Jepang turun 1,2 persen, Kospi Korea Selatan jatuh 5,4 persen, dan Shanghai Composite China melemah 0,7 persen. Hang Seng Hong Kong bergerak mendatar.

[
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
](https://www.google.com/preferences/source?q=https://voi.id)

### Tag Terpopuler

[#prabowo subianto](https://voi.id/tag/15/prabowo-subianto)

[#donald trump](https://voi.id/tag/29/donald-trump)

[#febrie adriansyah](https://voi.id/tag/15361/febrie-adriansyah)

[#konflik timur tengah](https://voi.id/tag/18400/konflik-timur-tengah)

[#giias 2026](https://voi.id/tag/18873/giias-2026)
