Penggunaan AI di Jepang Melesat, Seperempat Responden Tanpa Langkah Kehati-hatian Generative AI use in Japan nearly doubled in a year, with 58.8% of respondents reporting usage in fiscal 2025, according to a white paper from Japan's Ministry of Internal Affairs and Communications released Friday. However, 24.6% of respondents said they take no special precautions when using the technology, and Japan's overall adoption rate of 52.2% among those aged 20 and older still lags behind China, Germany, and the United States, all of which have surpassed 70%. TOKYO – Penggunaan AI generatif di Jepang meningkat hampir dua kali lipat dalam setahun. Namun, hampir seperempat responden mengaku tidak mengambil langkah kehati-hatian khusus saat memakai teknologi tersebut. Kyodo News dikutip Jumat, 24 Juli, menyebut temuan itu tercantum dalam buku putih Kementerian Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang yang dirilis Jumat. Sebanyak 58,8 persen responden di Jepang mengaku pernah menggunakan AI generatif pada tahun fiskal 2025. Sekitar 30 persen bahkan memakainya hampir setiap hari. AI generatif adalah teknologi yang dapat membuat teks, gambar, atau materi lain berdasarkan perintah pengguna. BACA JUGA: Kelompok usia 15 hingga 19 tahun baru dimasukkan dalam survei terbaru. Tingkat penggunaan pada kelompok ini mencapai 91,7 persen. Di kelompok usia 20 hingga 29 tahun, angkanya tercatat 78,2 persen. Sementara pada kelompok usia 60 hingga 69 tahun, tingkat penggunaan turun menjadi 33,5 persen. Meski kelompok usia termuda baru disertakan, penggunaan AI generatif di kalangan responden berusia 20 tahun ke atas tetap melonjak menjadi 52,2 persen. Survei daring dilakukan pada Januari dan Februari di Jepang, China, Jerman, dan Amerika Serikat. Di Jepang, sekitar 1.200 jawaban dinyatakan sah. Meski naik tajam, Jepang masih tertinggal dibandingkan tiga negara lain dalam survei. Tingkat penggunaan AI generatif di China, Jerman, dan Amerika Serikat telah melampaui 70 persen. Responden di Jepang paling banyak menggunakan AI untuk mencari informasi, membuat dokumen, dan meminta saran mengenai persoalan sehari-hari. Dalam penggunaan AI, sebanyak 38,2 persen responden mengaku memakai cara lain untuk memastikan informasi yang diterima akurat. Sementara itu, 24,6 persen tidak mengambil langkah kehati-hatian khusus. Survei juga menemukan persentase responden Jepang yang mempertimbangkan hak kekayaan intelektual lebih rendah dibandingkan tiga negara lainnya. Dalam survei terhadap perusahaan Jepang, sebanyak 86,4 persen responden menyatakan telah menggunakan AI generatif dalam kegiatan bisnis. Angka itu naik dari 55,2 persen pada tahun fiskal sebelumnya. Buku putih tersebut menilai penggunaan AI di Jepang terus berkembang. Pemerintah juga meminta manfaat teknologi tetap dipertimbangkan bersama risikonya. “Kerja sama yang sehat antara manusia dan AI perlu terus dikembangkan,” kata dokumen tersebut. Add VOI as a Preferred Source Follow VOI news updates across Google. + https://www.google.com/preferences/source?q=https://voi.id Tag Terpopuler prabowo subianto https://voi.id/tag/15/prabowo-subianto donald trump https://voi.id/tag/29/donald-trump piala dunia 2026 https://voi.id/tag/9889/piala-dunia-2026 febrie adriansyah https://voi.id/tag/15361/febrie-adriansyah konflik timur tengah https://voi.id/tag/18400/konflik-timur-tengah