# OpenAI Digugat setelah ChatGPT Health Diduga Sarankan Pendeta Menunda Berobat

> Source: <https://voi.id/teknologi/586371/openai-digugat-chatgpt-health-saran-medis>
> Published: 2026-07-24 04:05:00+00:00

**JAKARTA** – OpenAI menghadapi gugatan hukum setelah fitur ChatGPT Health diduga memberikan saran yang membuat seorang pendeta di Amerika Serikat menunda pemeriksaan medis. Penggugat menilai chatbot tersebut menggunakan pendekatan yang memanfaatkan keyakinan agamanya sehingga ia memilih tidak segera berkonsultasi dengan dokter.

Gugatan diajukan di Pengadilan Tinggi San Francisco oleh Scott Winters, seorang pendeta asal Florida. Dalam dokumen gugatan, Winters menyebut ChatGPT memberikan respons atas keluhan kesehatannya dengan mengatakan gejala yang dialami kemungkinan hanya "bagian kecil dari perjalanan panjang" dan bahwa "Tuhan tidak merancang tubuh Anda untuk terus-menerus mengalami kegagalan."

## BACA JUGA:

Menurut gugatan tersebut, Winters berinteraksi dengan fitur ChatGPT Health selama sekitar enam pekan sebelum akhirnya menemui tenaga medis. Setelah menjalani pemeriksaan, dokter mendiagnosis adanya penyumbatan berbahaya pada arteri di kedua paru-parunya.

Selama percakapannya dengan ChatGPT, Winters mengklaim chatbot menyarankan dirinya tetap beristirahat di kursi sandar (*recliner-bound*) hingga mengalami hingga 10 episode gejala tambahan. Menurut para dokter yang kemudian menanganinya, kurangnya aktivitas fisik diduga memperburuk kondisinya karena membantu terbentuknya penyumbatan pada pembuluh darah tersebut.

Akibat kondisi itu, Winters menyatakan kini harus menjalani pemulihan jangka panjang dan tidak lagi mampu menjalankan pekerjaannya.

"Dalam pernyataannya, Winters mengatakan, 'Saya bukan hanya hampir meninggal, tetapi juga kehilangan pekerjaan, karier, pelayanan, rumah, dan segalanya.'"

Melalui gugatan tersebut, Winters menuding OpenAI dan Chief Executive Officer (CEO), Sam Altman, melakukan praktik kedokteran tanpa kewenangan. Ia meminta ganti rugi serta meminta peluncuran ChatGPT Health dihentikan sementara hingga fitur tersebut dinyatakan aman oleh auditor independen.

Tim kuasa hukum Winters juga berpendapat bahwa sifat ChatGPT yang cenderung memberikan respons yang menyenangkan pengguna serta penyampaiannya yang terdengar meyakinkan membuat klien mereka terlalu bergantung pada chatbot tersebut. Dalam gugatan itu juga disebutkan bahwa penggunaan identitas keagamaan Winters dalam percakapan diduga membuatnya mengabaikan saran keluarga untuk segera mencari pertolongan medis.

Di sisi lain, OpenAI selama ini menyatakan ChatGPT dirancang sebagai alat bantu dan bukan pengganti tenaga kesehatan profesional. Perusahaan juga secara berkala mengingatkan pengguna bahwa respons chatbot dapat mengandung kekeliruan dan tidak boleh dijadikan satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan medis.

Kasus ini muncul tidak lama setelah OpenAI meluncurkan ChatGPT Health secara lebih luas di Amerika Serikat. Fitur tersebut memungkinkan pengguna menghubungkan rekam medis dan data kesehatan pribadi ke ChatGPT untuk membantu memahami hasil pemeriksaan kesehatan, memantau kondisi tubuh, serta mempersiapkan konsultasi dengan dokter.

Hingga berita ini ditulis, belum ada putusan pengadilan terkait gugatan tersebut. Tuduhan yang diajukan Scott Winters masih merupakan klaim dalam proses hukum dan belum terbukti di pengadilan.

[
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
](https://www.google.com/preferences/source?q=https://voi.id)

### Tag Terpopuler

[#prabowo subianto](https://voi.id/tag/15/prabowo-subianto)

[#donald trump](https://voi.id/tag/29/donald-trump)

[#piala dunia 2026](https://voi.id/tag/9889/piala-dunia-2026)

[#febrie adriansyah](https://voi.id/tag/15361/febrie-adriansyah)

[#konflik timur tengah](https://voi.id/tag/18400/konflik-timur-tengah)
