Mick Jagger Tolak Plagiasi AI, Tantang Musisi Ciptakan Musik Orisinal Mick Jagger, vokalis The Rolling Stones, menolak keras penggunaan AI untuk meniru vokal atau instrumen bandnya, menegaskan bahwa karya yang dihasilkan harus orisinal dan memiliki masukan pribadi dari kreatornya. Dalam wawancara dengan Billboard, Jagger menyatakan bahwa meniru identitas bermusik tanpa inovasi adalah kesalahan besar, sementara gitaris Keith Richards menambahkan bahwa industri musik membutuhkan kebaruan, bukan sekadar sintesis dari hal-hal lama. JAKARTA - Vokalis The Rolling Stones, Mick Jagger https://voi.id/musik/584812/mick-jagger-ungkap-hubungannya-dengan-sang-rival-david-bowie , akhirnya buka suara terkait masifnya penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence AI di industri musik global. Penyanyi berusia 82 tahun itu menegaskan, dirinya tidak keberatan jika para kreator bereksperimen dengan AI, dengan catatan karya yang dihasilkan harus memiliki unsur orisinalitas. Namun, Jagger melarang keras pemanfaatan AI yang hanya bertujuan untuk meniru karakter vokal maupun instrumen bandnya. Ia menilai tindakan mereplikasi identitas bermusik musisi lain tanpa adanya inovasi adalah kesalahan besar dalam dunia kreatif. "Secara eksponensial, saya tidak ingin ditiru oleh AI, baik secara vokal maupun instrumental, begitu pula dengan band ini,” kata Jagger dalam wawancara terbaru dengan Billboard. “Saya tidak ingin orang-orang hanya merilis sesuatu yang terdengar persis seperti The Rolling Stones—saya pikir itu jelas salah," sambungnya. Penyanyi nyentrik itu menambahkan, musisi sejati seharusnya enggan memanfaatkan teknologi hanya untuk mengekor gaya bermusik The Rolling Stones. Menurutnya, esensi dari seorang seniman adalah menyuntikkan pemikiran dan sentuhan personal ke dalam karya mereka, bukan sekadar mengandalkan algoritma. "Jika seseorang ingin membuat musik dengan AI, silakan saja. Namun, karya itu harus orisinal—Anda harus memiliki masukan dan pemikiran Anda sendiri. Jika Anda adalah orang yang kreatif, Anda tidak akan melakukan peniruan itu," tegasnya. Senada dengan Jagger, gitaris Stones, Keith Richards juga menyuarakan pandangan yang sama mengenai otentisitas karya seni. Ia menilai industri musik saat ini justru membutuhkan kebaruan, bukan sekadar pengulangan dari formula yang sudah ada. BACA JUGA: Richards pun menyentil keterbatasan AI yang dianggapnya hanya mampu mensintesis hal-hal lama yang sudah ada sebelumnya. "Pandangan saya adalah: saya lebih suka mendengar sesuatu yang orisinal. Musik bisa berkembang jauh lebih baik daripada sekadar mencoba menyalin dirinya sendiri,” ujar sang gitaris. “Bagaimanapun, ini adalah hal yang cukup sederhana—ini bukan Beethoven atau Bach, dan saya tidak ragu AI bisa melakukan itu, tapi lalu kenapa? Kita butuh masukan baru. Kita tidak ingin lebih banyak penyalinan dan sintesis," imbuhnya. Adapun penolakan terhadap pemanfaatan AI yang eksploitatif sedang hangat di kalangan musisi dunia. Industri musik global kini tengah gencar menyuarakan perlindungan hak cipta dan kekayaan intelektual dari ancaman kloning suara berbasis kecerdasan buatan. Di tengah perbincangan hangat mengenai masa depan industri musik ini, The Rolling Stones membuktikan eksistensi mereka yang tak lekang oleh zaman. Band rock asal Inggris yang terbentuk sejak era 1960-an ini baru saja meluncurkan kantong album studio ke-25 mereka yang bertajuk “Foreign Tongues”, yang kini sudah bisa dinikmati oleh para pencinta musik di berbagai platform digital. Add VOI as a Preferred Source Follow VOI news updates across Google. + https://www.google.com/preferences/source?q=https://voi.id Tag Terpopuler prabowo subianto https://voi.id/tag/15/prabowo-subianto donald trump https://voi.id/tag/29/donald-trump piala dunia 2026 https://voi.id/tag/9889/piala-dunia-2026 febrie adriansyah https://voi.id/tag/15361/febrie-adriansyah konflik timur tengah https://voi.id/tag/18400/konflik-timur-tengah