Kampus Inggris Pangkas Staf, Nasib Humaniora Diperdebatkan di Era AI University of Exeter in England plans to cut about 150 full-time equivalent positions, affecting around 500 staff, with most reductions proposed in the Faculty of Humanities, Arts, and Social Sciences, sparking debate about the future of humanities education amid AI-driven job market changes. The university says the restructuring is needed for long-term sustainability due to rising costs, falling real tuition income, underfunded research, and weakening international student demand, and it does not propose closing any departments. Ruby Granger, a popular YouTuber and alumna, expressed anger, saying tutors who gave so much to her and her friends are affected, while Michael J. Flexer, a lecturer and union co-chair, argues the university has a surplus and large cash reserves and has not provided detailed data to justify the cuts. JAKARTA - Rencana pemangkasan pekerjaan di University of Exeter, Inggris, membuka debat lebih luas tentang masa depan pendidikan humaniora. Isu ini muncul saat kampus menghadapi tekanan biaya, tuntutan lulusan siap kerja, dan perubahan dunia kerja akibat AI. Anadolu Agency dikutip Jumat, 31 Juli, melaporkan, proposal restrukturisasi University of Exeter diumumkan pada Juni. Rencana itu akan mengurangi setara sekitar 150 posisi penuh waktu dan berdampak pada sekitar 500 staf selama proses konsultasi. Menurut perwakilan staf, sebagian besar pengurangan yang diusulkan berada di Fakultas Humaniora, Seni, dan Ilmu Sosial. Humaniora mencakup bidang seperti sastra, bahasa, sejarah, filsafat, seni, dan kajian budaya. Bidang ini selama ini kerap dikaitkan dengan kemampuan berpikir kritis, membaca perubahan sosial, dan memahami manusia. Isu Exeter mencuat setelah Ruby Granger, kreator YouTube populer dan alumnus kampus itu, menerima pesan dari serikat mahasiswa. Ia diminta menyoroti rencana pemangkasan pekerjaan di bekas universitasnya. Awalnya, Granger mengira kasus itu hanya terjadi di Exeter. Namun setelah mengunggah video tentang rencana tersebut, ia menerima ratusan komentar dari mahasiswa, akademisi, dan lulusan yang menceritakan pemangkasan serupa di universitas lain di Inggris, Eropa, Australia, dan Amerika Serikat. “Saya sangat marah,” kata Granger kepada Anadolu. “Mereka adalah para tutor yang masih berhubungan dengan saya, orang-orang yang memberi begitu banyak kepada saya dan teman-teman saya selama kami kuliah,” ujarnya. BACA JUGA: University of Exeter menyatakan proposal tersebut masih dalam tahap konsultasi. Kampus menyebut restrukturisasi diperlukan untuk menjaga keberlanjutan jangka panjang di tengah kenaikan biaya, turunnya pendapatan biaya kuliah secara riil, riset yang kurang didanai, dan melemahnya permintaan mahasiswa internasional. “Universitas tidak mengusulkan penutupan departemen atau disiplin ilmu apa pun, dan berdasarkan proposal ini Exeter akan tetap memiliki salah satu fakultas Humaniora, Seni, dan Ilmu Sosial terbesar di Inggris,” kata University of Exeter dalam pernyataan kepada Anadolu. Kampus itu juga menyatakan berharap perubahan dapat dilakukan lewat langkah sukarela. Exeter mengaku bekerja sama dengan serikat pekerja untuk menghindari pemutusan hubungan kerja wajib sejauh mungkin. Tekanan terhadap pendidikan tinggi Inggris tidak hanya terjadi di Exeter. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah universitas di Inggris mengumumkan restrukturisasi dan pemangkasan pekerjaan. Pemicunya berlapis, mulai dari kenaikan biaya, biaya kuliah domestik yang dibekukan, hingga ketidakpastian perekrutan mahasiswa internasional. Higher Education Statistics Agency melaporkan jumlah staf akademik di penyedia pendidikan tinggi Inggris turun untuk pertama kalinya. Penurunannya mencapai 1 persen pada tahun akademik 2024-2025. Michael J. Flexer, dosen Sastra Inggris di Exeter sekaligus salah satu ketua cabang University and College Union atau UCU di kampus tersebut, dikutip Anadolu, menilai persoalan ini tidak bisa hanya dilihat sebagai urusan keuangan. Ia mengatakan staf sudah mulai mengorganisasi diri beberapa bulan sebelum proposal restrukturisasi diumumkan ke publik. “University of Exeter adalah universitas yang sangat baik. Kami sudah memiliki sesuatu yang berharga, dan yang perlu kami lakukan hanyalah mempertahankannya,” kata Flexer. Menurut Flexer, Exeter masih berada dalam posisi keuangan yang relatif kuat. Ia menyebut adanya surplus anggaran, cadangan kas besar, dan perekrutan mahasiswa yang tetap berjalan. Perwakilan serikat, kata Flexer, sudah berulang kali meminta manajemen memberi bukti rinci untuk mendukung proyeksi jangka panjang kampus. “Kami masih belum menerima jawaban yang serius, rinci, dan berbasis data,” ujarnya. Perdebatan kemudian melebar ke cara kampus menilai lulusan. Selama bertahun-tahun, universitas makin ditekan untuk membuktikan lulusan mereka mudah masuk dunia kerja. Flexer menilai pendidikan tinggi tidak semestinya dibaca hanya dari kebutuhan pasar tenaga kerja hari ini. Mahasiswa yang mulai kuliah sekarang baru akan masuk dunia kerja enam atau tujuh tahun lagi. Pada saat itu, kebutuhan keterampilan teknis bisa berubah. Menurut Flexer, kampus seharusnya membekali mahasiswa dengan kemampuan yang tetap berguna meski teknologi berubah cepat. “Tetapi saya dapat mengatakan dengan jujur kepada mahasiswa bahwa kemampuan berpikir jernih, berkomunikasi, bekerja dengan orang lain, berimajinasi, bertanya, dan tetap ingin tahu akan selalu berguna,” kata Flexer. Universities UK, lembaga yang mewakili 142 institusi pendidikan tinggi, mengakui kampus-kampus menghadapi tekanan keuangan berat. Namun, lembaga itu mengingatkan agar peran jangka panjang pendidikan humaniora tidak dikesampingkan. “Kita seharusnya sama-sama prihatin terhadap setiap pengurangan aliran lulusan humaniora karena, di era AI, kita kemungkinan akan makin menghargai pemahaman tentang bagaimana manusia berpikir dan bertindak, bukan sebaliknya,” kata Kepala Eksekutif Universities UK, Vivienne Stern, kepada Anadolu. Amelia Morris, dosen Komunikasi di Exeter, mengatakan humaniora dan ilmu sosial membantu mahasiswa memahami kekuatan yang tertanam dalam bahasa yang seolah-olah netral. Bidang itu juga membantu mengembangkan pemikiran kritis dan kreativitas untuk merespons tantangan sosial yang makin besar. Peter Riley, dosen senior Sastra Amerika, menyebut disiplin humaniora juga berperan mempertanyakan otoritas dan meminta lembaga bertanggung jawab. Menurut Riley, kontribusi humaniora tidak berhenti di ruang kuliah. Add VOI as a Preferred Source Follow VOI news updates across Google. + https://www.google.com/preferences/source?q=https://voi.id Tag Terpopuler prabowo subianto https://voi.id/tag/15/prabowo-subianto donald trump https://voi.id/tag/29/donald-trump febrie adriansyah https://voi.id/tag/15361/febrie-adriansyah konflik timur tengah https://voi.id/tag/18400/konflik-timur-tengah giias 2026 https://voi.id/tag/18873/giias-2026