Integrasi LLM pada Pipeline Data Real-Time vs Batch: Analisis Efisiensi Engineers are integrating large language models into real-time data pipelines, facing challenges such as state synchronization and KV cache transfer bottlenecks. Optimizations using TensorRT-LLM and asynchronous architectures like Pathways are critical to reduce latency, while batch processing remains cost-efficient for non-time-sensitive tasks. A hybrid model is proposed for future systems to balance latency-critical inference and heavy batch workloads. Transformasi infrastruktur data mendorong transisi dari pemrosesan batch statis ke arsitektur streaming. Integrasi LLM kini menjadi komponen inti sistem data terdistribusi, di mana kecepatan pemrosesan informasi menentukan relevansi dan akurasi output AI secara instan. Menyematkan LLM dalam pipeline real-time memicu tantangan sinkronisasi state dan overhead komunikasi antar-node. Bottleneck utama biasanya terjadi pada transfer KV cache dan keterbatasan bandwidth memori, yang menghambat performa inferensi pada skala terdistribusi. Optimasi melalui TensorRT-LLM krusial untuk menekan latensi token-to-token melalui optimalisasi kernel CUDA dan manajemen memori yang lebih efisien. Selain itu, arsitektur asinkron seperti Pathways memungkinkan eksekusi grafik dataflow dinamis, meminimalkan idle time pada akselerator GPU/TPU. Pendekatan batch tetap superior untuk tugas non-sensitif waktu. Efisiensi biaya cost-efficiency dan throughput tinggi menjadikan metode ini pilihan utama untuk pemrosesan dataset masif, seperti pelatihan ulang model retraining atau analisis historis skala besar. Sistem masa depan akan mengadopsi model hibrida: inferensi kritis latensi dijalankan di edge atau buffer lokal, sementara pemrosesan berat tetap berada pada jalur batch. Strategi ini memaksimalkan data-locality dan mengoptimalkan alokasi sumber daya komputasi.