Google Digugat Lagi, Gemini Dituding Dilatih dengan Jutaan Karya Berhak Cipta Google faces a new copyright lawsuit from Hachette Book Group, Cengage, Elsevier, and author Scott Turow, who allege the company copied millions of copyrighted works without permission to train its Gemini AI. The plaintiffs claim Google exploited its business relationships and used content from the internet and Google Books to build Gemini, enabling it to compete with human authors at an unprecedented scale. The case adds to a growing legal battle over generative AI and copyright, following similar lawsuits against Meta and Anthropic. JAKARTA - Google kembali menghadapi gugatan hak cipta. Sejumlah penerbit dan penulis menuding perusahaan teknologi itu menyalin jutaan karya tanpa izin untuk melatih kecerdasan buatan Gemini. CNET dikutip Rabu, 15 Juli, menyebut Hachette Book Group, Cengage, Elsevier, dan penulis Scott Turow mengajukan gugatan ke Pengadilan Distrik Amerika Serikat untuk Distrik Selatan New York pada 10 Juli. Para penggugat menuduh Google mengambil keuntungan dari hubungan bisnisnya dengan penerbit. Karya yang sebelumnya tersedia di internet dan Google Books disebut disalin dalam jumlah besar untuk melatih Gemini tanpa izin atau kompensasi. Google Books merupakan layanan milik Google untuk mendigitalkan dan memudahkan pencarian isi buku. “Skala dan kecepatan Gemini dalam membuat buku serta bersaing dengan penulis manusia belum pernah terjadi sebelumnya,” tulis para penggugat dalam dokumen gugatan. Mereka menyatakan kemampuan itu hanya mungkin dicapai karena Google diduga menyalin karya milik penggugat dan anggota kelompok yang mereka wakili. Google dan kuasa hukum para penerbit belum segera menanggapi permintaan komentar. Hachette, Cengage, Elsevier, dan Turow sebelumnya bergabung dengan McGraw-Hill serta Macmillan untuk menggugat Meta pada Mei. Tuduhannya juga terkait penggunaan karya berhak cipta untuk melatih AI. Hak cipta menjadi salah satu sengketa hukum terbesar dalam perkembangan AI generatif. Teknologi ini dapat membuat teks, gambar, audio, atau video setelah dilatih menggunakan data dalam jumlah besar. Masalah hukum muncul ketika data pelatihan berasal dari karya manusia yang dilindungi hak cipta. Berbagai perusahaan AI kemudian digugat karena dituding mengambil materi dari internet atau sumber lain tanpa persetujuan pemiliknya. BACA JUGA: Google sebelumnya juga menghadapi persoalan serupa. Disney mengirim surat peringatan pada Desember agar Google menghentikan penggunaan kekayaan intelektualnya. Disney menuding model pembuat gambar Nano Banana dan sejumlah model video Google menghasilkan konten AI yang menampilkan karakter ikonik perusahaan tersebut tanpa izin. Perdebatan mengenai AI juga merambah industri penerbitan. Hachette membatalkan penerbitan novel horor Shy Girl karya Mia Ballard di Amerika Serikat setelah muncul tuduhan bahwa buku tersebut ditulis menggunakan AI generatif. Tuduhan itu memicu kemarahan komunitas buku dan dinilai melanggar aturan penerbit. Dalam dua gugatan besar terhadap Anthropic dan Meta tahun lalu, pengadilan memenangkan perusahaan AI. Namun, kedua hakim menegaskan perkara serupa pada masa depan dapat menghasilkan putusan berbeda. “Hukum hak cipta berlaku bagi perusahaan AI, termasuk Google, dengan kekuatan yang sama seperti bagi perusahaan lain yang telah mematuhi aturan tersebut selama puluhan tahun,” tulis Hachette dan para penggugat lainnya. Add VOI as a Preferred Source Follow VOI news updates across Google. + https://www.google.com/preferences/source?q=https://voi.id