# AI Bantu Ilmuwan Temukan Kelas Antibiotik Baru Melawan Bakteri Kebal Obat

> Source: <https://voi.id/teknologi/586916/ai-bantu-ilmuwan-temukan-kelas-antibiotik-baru-melawan-bakteri-kebal-obat>
> Published: 2026-07-28 03:45:00+00:00

JAKARTA - Kecerdasan buatan atau AI membantu ilmuwan menemukan kelas antibiotik baru yang menjanjikan untuk melawan MRSA, bakteri kebal obat yang dapat menyebabkan infeksi serius.

Euronews dikutip Senin, 27 Juli, melaporkan, temuan tersebut berasal dari riset yang dipublikasikan di jurnal Nature. Studi itu ditulis bersama oleh 21 peneliti.

Riset ini berfokus pada methicillin-resistant Staphylococcus aureus atau MRSA. Bakteri ini dapat menyebabkan infeksi kulit ringan hingga penyakit berat, seperti pneumonia dan infeksi aliran darah.

Menurut European Centre for Disease Prevention and Control atau ECDC, hampir 150.000 infeksi MRSA terjadi setiap tahun di Uni Eropa. Di kawasan yang sama, hampir 35.000 orang meninggal setiap tahun akibat infeksi yang resisten terhadap antimikroba.

Resistensi antimikroba terjadi ketika kuman, termasuk bakteri, tidak lagi mempan terhadap obat yang sebelumnya efektif. Kondisi ini membuat infeksi lebih sulit diobati.

Tim dari Massachusetts Institute of Technology atau MIT memakai model deep learning untuk mencari senyawa yang berpotensi menjadi antibiotik. Deep learning adalah bagian dari AI yang meniru cara jaringan saraf bekerja untuk membaca pola dalam data.

## BACA JUGA:

James Collins, profesor Teknik Medis dan Sains MIT sekaligus salah satu penulis studi, mengatakan keunggulan riset ini ada pada model AI yang lebih mudah dibaca cara kerjanya.

“Pemahaman pentingnya adalah kami dapat melihat apa yang dipelajari model untuk membuat prediksi bahwa molekul tertentu akan menjadi antibiotik yang baik,” kata Collins.

“Pekerjaan kami menyediakan kerangka kerja yang hemat waktu, hemat sumber daya, dan memberi pemahaman mekanisme dari sudut pandang struktur kimia, dengan cara yang belum kami miliki hingga saat ini,” ujarnya.

Para peneliti lebih dulu mengevaluasi sekitar 39.000 senyawa untuk melihat aktivitas antibiotiknya terhadap MRSA. Data hasil pengujian itu, bersama informasi struktur kimia senyawa, kemudian dimasukkan ke dalam model AI.

Felix Wong, peneliti pascadoktoral di MIT dan Harvard sekaligus salah satu penulis utama studi, mengatakan timnya ingin membuka apa yang selama ini disebut “kotak hitam” dalam model AI.

“Apa yang ingin kami lakukan dalam studi ini adalah membuka kotak hitam. Model-model ini terdiri atas sejumlah sangat besar perhitungan yang meniru koneksi saraf, dan tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi di baliknya,” kata Wong.

Untuk memperketat pencarian, peneliti memakai tiga model deep learning tambahan. Model ini dilatih untuk menilai toksisitas senyawa pada tiga jenis sel manusia. Toksisitas adalah tingkat kemungkinan suatu zat menimbulkan dampak berbahaya bagi tubuh.

Setelah melihat kemampuan membunuh bakteri dan tingkat bahayanya bagi sel manusia, peneliti memilih senyawa yang paling menjanjikan.

Sekitar 12 juta senyawa yang tersedia secara komersial kemudian disaring memakai rangkaian model AI tersebut.

Model itu menemukan senyawa dari lima kelas berbeda yang diprediksi aktif melawan MRSA. Kelas tersebut dibedakan berdasarkan bagian struktur kimia tertentu di dalam molekul.

Peneliti lalu memperoleh sekitar 280 senyawa dan mengujinya terhadap MRSA di laboratorium. Dari sana, mereka menemukan dua kandidat antibiotik yang menjanjikan dari kelas yang sama.

Kandidat antibiotik adalah senyawa yang masih perlu diuji lebih lanjut sebelum bisa menjadi obat.

Euronews menyebut temuan ini masih berada pada tahap riset. Dalam uji pada dua model tikus, satu untuk infeksi kulit MRSA dan satu lagi untuk infeksi sistemik MRSA, masing-masing senyawa menurunkan populasi MRSA hingga 10 kali lipat.

[
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
](https://www.google.com/preferences/source?q=https://voi.id)
